
Kayaknya saya lagi kewalahan, tapi tetap harus jalan
Hari ini saya mengetik sesuatu lagi. Bukan sesuatu yang penting, hanya hal yang beberapa hari terakhir terus terlintas di kepala.
Singkat cerita, saya sempat liburan beberapa pekan selama bulan puasa hingga Idul Fitri di Makassar. Di masa itu, istri saya benar-benar menjalankan perannya dengan sangat baik. Saya merasa benar-benar memiliki pasangan, dan anak saya benar-benar memiliki seorang ibu yang hadir sepenuhnya. Itu adalah masa yang baik.
Lalu liburan selesai, dan saya harus kembali ke perantauan di Maba.
Sejak kembali, ada satu hal yang tidak baik-baik saja: saya merasa overwhelmed. Perasaan ini tidak hilang, bahkan setelah beberapa pekan. Salah satu penyebab utamanya adalah pola makan anak saya. Sebelum liburan, saya memberinya makan dua sampai tiga kali sehari. Setelah liburan, saya berkomitmen untuk meningkatkan kualitas pengasuhan—tiga kali makan utama, satu kali susu, dan satu sampai dua kali camilan, dengan jeda sekitar dua jam antar waktu makan.
Masalahnya, tanggung jawab saya di rumah tidak hanya memberi makan anak. Saya tetap harus membersihkan rumah, mencuci pakaian, mencuci piring, memastikan ketersediaan makanan, dan tentu saja menjalankan pekerjaan utama saya sebagai dokter anestesiologi.
Rasa kewalahan ini sampai pada titik di mana saya bahkan belum sempat kembali berlari secara proper sejak kembali ke Maba. Aktivitas yang biasanya membantu saya menjaga keseimbangan justru terhenti.
Hal lain yang memperberat adalah video call dari istri, yang bisa terjadi berkali-kali dalam sehari—kurang lebih setiap beberapa jam—untuk memastikan rutinitas anak berjalan sesuai rencana. Saya paham tujuannya, tapi di kondisi saya yang sudah kewalahan, itu justru menambah tekanan yang tidak sedikit.
Saya juga mencoba memahami dari sisi istri saya. Mungkin ini kombinasi dari rasa kesepian, waktu luang yang berlebih, dan dorongan untuk menghindari pekerjaan yang sebenarnya perlu diselesaikan. Ia memiliki tanggung jawab akademik yang harus dirampungkan hingga publikasi, ditambah ujian yang harus dihadapi, sebelum akhirnya kembali berkumpul bersama kami.
Namun, seperti yang sering terjadi, distraksi lebih mudah diikuti dibandingkan tanggung jawab. Akhirnya, video call penuh tuntutan dan tekanan menjadi rutinitas, dan saya yang sudah lelah sering kali memilih jalan paling mudah: memberikan ponsel kepada anak agar ia teralihkan bahkan saat tidak video call, sementara saya beristirahat.
Konsekuensinya jelas—anak saya tidak belajar seperti yang seharusnya.
Kalau dipikir-pikir, semuanya terasa tidak ideal. Dan mungkin, memang belum ada yang benar-benar berjalan dengan baik.
Posting Komentar