
Nothing to vent, actually. Mungkin saya kebanyakan membaca komik Korea.
Dulu saya banyak berkontemplasi, berkultivasi, berpikir, merenung—pokoknya apa pun sebenarnya nama yang sejenis itu. Saya berharap, dengan melakukan hal-hal tersebut, saya akan menjadi lebih bijak, lebih kuat, memiliki internal energy yang lebih besar, dan dantian yang lebih baik.
Tapi itu fiksi.
Itu cuma ada di komik yang saya baca.
Di dunia nyata, tidak ada hal seperti itu. Saya sadar. Bahkan beribadah pun tidak memiliki efek langsung terhadap massa otot atau kebijaksanaan dalam mengambil keputusan. Kesimpulan yang saya pegang sejak belasan tahun lalu adalah: berlatihlah sesuai dengan hal yang akan diujikan.
Jika soalnya esai, jangan hanya latihan pilihan ganda. Jika soalnya pilihan ganda, jangan hanya latihan esai. Jika ujiannya Cooper test, jangan hanya latihan push up. Jika ujiannya tentang suatu ilmu, berlatihlah ilmu itu—bukan hanya diam dan berdoa.
Despite that, saya masih sering diam dan berdoa, berharap keajaiban akan datang.
Oke, itu dulu.
Sekarang sudah berbeda. Saya sudah mencapai kehidupan yang dulu selalu didambakan oleh diri saya di masa lalu. Lantas, apakah sekarang waktunya saya berhenti dan menikmati hidup?
Tentu saja tidak.
Waktu terus bergeser. Zaman berubah. Dan orang-orang di atas sana selalu punya inovasi baru untuk mempersulit orang-orang di bawah sini. Mungkin saya sudah bukan berada di bagian terbawah, tetapi sepertinya zaman terus mendorong kondisi semua orang semakin ke bawah.
Untuk hal ini, ada dua opsi: predict and prevent problems, atau berdoa.
Saya bahkan tidak tahu sebenarnya saya sedang menulis apa. Saya tidak tahu saya sedang berpikir apa. Saya tidak tahu saya sedang mengusahakan apa. Dan sebenarnya, ketidaktahuan itu membuat semuanya dianggap tidak ada.
Jadi, saya tidak menulis apa-apa.
Saya tidak berpikir.
Saya tidak berusaha.
Lalu, saya menjadi iri dengan kolega saya yang melakukan sebaliknya.
Beberapa dari mereka melanjutkan pendidikan. Like, damn! Kita baru saja selesai dari penderitaan masa residensi sekitar setahun lalu, dan beberapa dari kita ternyata sudah dalam proses menaikkan levelnya lagi.
Padahal, dalam rencana jangka panjang saya, fase ini seharusnya masih tentang menyelesaikan hutang pengabdian di sini. Namun, bahkan sebelum fase itu selesai, godaan untuk naik level sudah muncul lagi.
Mereka punya penghasilan yang besar dan pengeluaran yang relatif kecil, sehingga sanggup melakukan itu. Saya pribadi masih kesulitan untuk hidup ketika gaji terlambat turun.
Saya tidak sepadan dengan mereka.
Lalu, kalau saya bersemedi, diam, merenung, atau bermeditasi, yang mungkin hilang hanyalah perasaan tidak berdaya dan tidak sepadan itu.
Yang tidak hilang adalah kenyataan bahwa saat ini saya sebenarnya sedang tidak berpikir dan tidak berusaha.
Posting Komentar