
Sialan juga kalau dipikir-pikir. Gara-gara beasiswa yang dulu nominalnya tidak seberapa, saya sekarang harus menjalani pengabdian dengan gaji yang pas. Terlalu pas untuk ukuran profesi saya, meskipun saya sadar, angka itu mungkin tetap dianggap besar oleh profesi lain. Jadi, sebelum terdengar seperti tidak bersyukur, saya harus bilang dulu: ini sebenarnya lebih dari cukup. Saya masih bisa hidup, masih bisa makan, masih bisa bekerja, masih bisa memenuhi banyak kebutuhan dasar. Tapi manusia memang tidak selalu gelisah karena kekurangan mutlak. Kadang, manusia gelisah karena membandingkan hidupnya dengan skenario lain yang terasa lebih menguntungkan.
Dalam hal ini, saya iri kepada teman-teman yang “berutang” ke tempat lain, bukan ke pemerintah. Mereka punya beban, tentu saja. Tapi bentuk bebannya berbeda. Mereka bisa masuk ke skema lain, seperti PGDS, lalu tetap punya peluang untuk bergerak, berkembang, bahkan mungkin diproyeksikan untuk naik lagi. Sementara saya, karena ikatan saya sudah jelas, rasanya seperti sudah selesai ditandai. Saya sudah terikat, maka tidak perlu lagi dibujuk. Tidak perlu lagi dirayu. Tidak perlu lagi diberi jalur pengembangan tambahan. Saya sudah masuk ke dalam sistem, dan sistem tidak merasa perlu melakukan banyak hal lagi terhadap saya.
Padahal, saya mencintai pekerjaan saya. Well, I love my job. Itu sebenarnya alasan utama saya dulu bersusah payah sekolah. Saya memilih jalan ini bukan karena ingin hidup paling santai, bukan juga karena ingin sekadar punya gelar. Saya memang ingin bekerja seperti ini. Saya ingin menjadi dokter anestesiologi, bekerja di ruang operasi, berurusan dengan pasien kritis, mengambil keputusan cepat, memahami fisiologi, obat, jalan napas, hemodinamik, dan semua hal rumit yang dulu membuat saya merasa hidup.
Masalahnya, di tempat saya sekarang, aktualisasi diri itu terasa kurang. Sekali lagi, ini bukan berarti saya tidak bersyukur. Tempat yang santai adalah nikmat. Tidak semua orang diberi kesempatan untuk hidup dengan ritme yang relatif tidak menghancurkan jiwa. Ada banyak orang yang mungkin akan menganggap kondisi saya sekarang sebagai surga. Beban kerja tidak sebrutal masa pendidikan. Hidup lebih longgar. Tidak selalu dikejar alarm operasi, konsulan, laporan, dan wajah-wajah senior yang menuntut jawaban sempurna setiap saat.
Tapi justru di situlah masalahnya. Saya takut.
Saya takut keterampilan saya hilang pelan-pelan. Saya takut kemampuan yang dulu dibentuk dengan tekanan tinggi, kurang tidur, dimarahi, membaca karena terpaksa, dan bekerja karena tidak punya pilihan, perlahan-lahan menguap begitu saja. Saya takut tangan saya tidak setajam dulu. Saya takut kepala saya tidak secepat dulu. Saya takut pengetahuan saya digerus zaman, sementara saya merasa sedang berdiri diam. Ilmu kedokteran tidak menunggu siapa pun. Teknik berubah, rekomendasi berubah, standar berubah, dan orang-orang yang terus berada di pusat aktivitas akan bergerak bersama perubahan itu. Sedangkan saya? Saya khawatir hanya menjadi penonton yang semakin lama semakin jauh dari arena.
Lalu muncul keinginan-keinginan itu. Saya mau sekolah lagi. Saya mau subspesialis. Saya mau S2. Astaga, banyak sekali keinginan saya. Tidak nampak tanah. Seolah-olah satu pencapaian tidak pernah cukup untuk membuat saya tenang. Dulu saya hanya ingin lulus. Setelah lulus, saya ingin bekerja. Setelah bekerja, saya ingin berkembang lagi. Setelah berkembang, mungkin nanti saya ingin posisi lain lagi. Begitu terus. Kalau dilihat dari luar, mungkin ini ambisi. Kalau dilihat dari dalam, rasanya lebih seperti rasa panas yang tidak jelas sumbernya.
Yang membuat rasa panas itu makin nyata adalah ketika melihat teman seangkatan sudah mulai sekolah lagi. Baru sekitar setahun kami selesai dari penderitaan masa residensi, sebagian orang sudah masuk ke fase berikutnya. Mereka sudah menaikkan level. Mereka sudah mulai menyusun jalan baru. Saya ikut senang, tentu saja. Tapi mari jujur: saya juga panas. Ada bagian dari diri saya yang langsung membandingkan. Mereka sudah bergerak, saya masih di sini. Mereka sudah naik, saya masih menunggu. Mereka sudah memulai bab baru, saya masih membaca ulang bab pengabdian yang halaman akhirnya belum kelihatan jelas.
Saya tidak tahu apakah saya benar-benar tidak akan diizinkan sekolah sampai durasi pengabdian saya selesai. Mungkin iya, mungkin tidak. Itu bisa saja hanya asumsi saya. Bisa saja kalau dicoba, ada jalan. Bisa saja kalau diajukan, ada ruang. Tapi dalam kepala saya, rasanya seperti sudah ada tembok besar yang menutup pintu itu. Saya merasa belum waktunya, bukan karena saya tidak mau, tetapi karena sistem belum tentu mengizinkan. Dan rasa “belum tentu” itu kadang lebih melelahkan daripada penolakan yang jelas.
Yang baru saya sadari belakangan, ternyata bukan hanya gaji yang diatur oleh daerah tempat mengabdi. Ruang gerak untuk mengembangkan diri pun ikut terasa diatur. Saya tidak bisa begitu saja memutuskan ingin sekolah lagi. Saya tidak bisa begitu saja mengambil kesempatan yang muncul. Semua harus dihitung dengan status, ikatan, kewajiban, izin, dan konsekuensi. Sementara di sisi lain, mereka yang masuk skema PGDS bisa saja “dipilih” untuk “di-upgrade”. Saya paham logikanya. Mereka di-upgrade agar semakin terikat. Sistem memberi kesempatan sebagai bentuk investasi, tetapi investasi itu juga menjadi tali.
Sedangkan saya sudah terikat.
Karena sudah terikat, mungkin tidak ada urgensi untuk mengikat saya lebih kuat lagi. Tidak perlu di-upgrade untuk dibuat loyal, karena loyalitas saya sudah dibeli lebih dulu oleh beasiswa yang dulu nominalnya bahkan tidak terasa seberapa. Ini bagian yang membuat saya agak getir. Bukan karena saya merasa tertipu. Saya tahu ada konsekuensi. Saya tahu ada kewajiban. Saya tahu tidak ada makan siang gratis. Tapi ketika konsekuensi itu akhirnya benar-benar dirasakan, tetap saja rasanya berbeda. Teori selalu lebih ringan daripada kenyataan.
Lalu saya mencoba mengambil jalan tengah: sudahlah, nikmati saja hidup yang ada. Bukankah kondisi saya sekarang sebenarnya sudah baik? Saya punya pekerjaan. Saya punya keluarga. Saya tidak sedang kelaparan. Saya tidak sedang dikejar-kejar utang besar. Saya punya waktu untuk bernapas, menulis, bermain dengan anak, bahkan sesekali memikirkan hal-hal yang tidak penting. Kalau ini bukan bentuk kehidupan yang layak disyukuri, lalu apa lagi?
Tapi bahkan keputusan untuk menikmati hidup pun sekarang terasa terancam.
Harga apa-apa naik. Tiket naik. Makanan naik. Kebutuhan rumah naik. Barang yang dulu terasa biasa sekarang jadi perlu dipikirkan dua kali. Menikmati hidup dengan apa yang ada seharusnya mudah kalau “yang ada” tetap stabil. Masalahnya, yang ada itu terus digerogoti. Penghasilan terasa tetap, sementara biaya hidup bergerak naik seperti tidak punya rem. Di titik ini, saya sulit untuk tidak merasa kesal kepada pemerintah. Regulasi ekonomi dalam negeri terasa payah sekali ketika dampaknya sampai ke hidup sehari-hari orang biasa.
Mungkin saya sedang tidak adil. Mengatur negara tentu tidak sesederhana mengatur daftar belanja rumah. Ekonomi global, geopolitik, energi, distribusi, inflasi, dan semua istilah besar lainnya pasti punya peran. Tapi sebagai warga yang merasakan langsung dampaknya, saya juga berhak merasa jengkel. Saya tidak hidup di dalam tabel makroekonomi. Saya hidup di dalam tagihan, tiket pesawat, harga bahan makanan, biaya anak, kebutuhan rumah, dan keterlambatan gaji yang kadang membuat napas jadi pendek.
Jadi di sinilah saya sekarang. Di satu sisi, saya tahu hidup saya sudah cukup baik. Bahkan mungkin sangat baik. Di sisi lain, saya merasa tertahan, tertinggal, dan sedikit terancam oleh perubahan yang tidak bisa saya kendalikan. Saya ingin bersyukur, tapi juga ingin maju. Saya ingin tenang, tapi juga ingin naik level. Saya ingin menikmati hidup, tapi juga khawatir hidup yang ingin saya nikmati itu perlahan-lahan menjadi semakin mahal.
Mungkin masalahnya memang bukan pada hidup saya yang kurang. Mungkin masalahnya adalah ego saya yang tidak kenyang-kenyang. Atau mungkin, ego itu bukan sekadar ego. Mungkin itu adalah bagian dari diri saya yang masih ingin tumbuh, masih takut menjadi tumpul, dan masih belum rela kalau seluruh energi yang dulu dibakar selama masa pendidikan akhirnya hanya dipakai untuk bertahan.
Saya tidak tahu mana yang benar.
Yang jelas, hari ini saya sedang iri, sedang gelisah, sedang ingin sekolah lagi, sedang ingin hidup lebih tenang, dan sedang kesal karena harga-harga naik.
Manusia memang bisa serumit itu: sudah berada di tempat yang baik, tetapi tetap merasa harus bergerak.
Posting Komentar