![]() |
| Dokter anestesi ganteng yang diilustrasikan oleh ChatGPT ini 100% bukan saya. |
Sabtu kemarin, 8 Februari 2025, tidak ada kejadian menarik. Sebenarnya hari-hari sebelumnya juga tidak terlalu menarik, tapi kemarin itu benar-benar terlalu biasa. Bangun, visite ICU, bius, pulang, tidur cepat, bangun pagi, lalu tiba di hari Minggu, 9 Februari 2025.
Hari Minggu ini dimulai lebih cepat dari rencana. Saya berencana bangun jam 5 pagi, tapi dokter IGD menelpon jam 3:50 pagi soal rencana SC emergensi. SC dijadwalkan jam 6:30 pagi, tapi saya sudah dibangunkan sebelum jam 4. Sebagai orang yang punya insomnia kronis, tidur kembali itu sulit. Dan kalaupun saya tidur, kemungkinan besar saya baru bangun jam 9.
Agenda di Todoist pagi ini tidak terlalu banyak. Saya mencoba tidak mengerjakan hal-hal yang belum waktunya. Waktu masih menunjukkan jam 6 pagi, langit masih gelap, dan saya tidak tahu harus melakukan apa. Jadi, saya putuskan untuk lari pagi.
3 km dalam 20 menit. Ternyata, denyut nadi saya lambat naiknya kalau lari di saat gelap begini. Biasanya bisa sampai 170-180 bpm, tadi pagi hanya 110-130 bpm.
Saya pulang ke Losmen sekitar jam 6:25 pagi dan mendapati dokter internis keluar dari parkiran Losmen dengan mobil dinas silvernya. Wow, pagi sekali dia berangkat!
Setelah lari pagi yang sebenarnya tidak direncanakan, saya mandi dan berangkat ke rumah sakit. Nyatanya, operasi baru mulai jam 7:15 karena petugas ruang operasi baru tiba jam segitu.
Untuk anestesi spinal pada SC, saya cukup mahir menggunakan teknik very low dose. Teknik ini masih kontroversial di kalangan guru-guru saya karena tidak semua dokter anestesi percaya diri dengan efektivitasnya. Tapi saya hampir selalu melakukannya.
Hanya saja, pagi tadi, saat memegang jarum, saya merasa ada firasat buruk. Seperti akan gagal dalam teknik ini. Bodohnya, saya mengabaikan gut feeling itu dan lanjut saja seperti biasa. Saya lupa prinsip penting: kalau ragu, jangan lakukan.
Yap, firasat saya benar. Terjadi blok parsial. Saraf yang terbius hanya sebagian dari yang seharusnya. Mungkin karena obatnya. Mungkin juga karena pasiennya terlalu overreacting terhadap rangsangan tekan-tarik.
Sebagai catatan, selama operasi pasien tidak merasakan nyeri, tidak juga bereaksi saat diiris atau dijahit. Tapi dia histeris saat perutnya ditarik atau ditekan. Ini membuat dokter obgyn cemas. Dan saya, sebagai dokter anestesinya, malu.
Setelah semua kekacauan ini diatasi, saya pulang ke Losmen. Jam 8 pagi, mobil dinas si internis sudah terparkir manis di Losmen. First-out, first-in rupanya dia. Duluan pergi, duluan pulang juga. Rajin. Bahkan untuk ukuran hari Minggu.
Setelah itu lanjut minum kopi dan menyapa bocah melalui CCTV. Mamak bocah ternyata sudah berangkat sejak pagi-pagi buta. Oh, I miss my cute little girl.
Setelah puas ngobrol dengan bocil, saya leyeh-leyeh di kamar, membaca buku. Dan saya menyadari sesuatu: saya bukan tidak suka membaca buku. Saya hanya tidak suka membaca buku teks. Nyatanya, buku seperti Atomic Habits atau The Psychology of Money saya baca dengan santai.
Tiba-tiba, ada kiriman WA. Seolah-olah tidak ada riwayat marahan, istri jadi pura-pura amnesia. Ngabarin kalau besok dia presentasi proposal tapi slidenya belum jadi karena malas mengerjakannya. Parahnya lagi, dalam dokumen proposalnya, dia tidak tahu dari mana asal gambar yang dipakai, dan ada referensi yang terlewat. Dia tanya ke saya karena saya yang buatkan sebagian besar.
Setelah saya menunjukkan "jalan kebenaran", tiba-tiba dia tidak ada respon lagi. Sepi. Saya dicuekin. Tapi, saya "dibayar" dengan video call bocil beberapa saat setelah diskusi itu. Segitu saja.
Tidak ada kejadian menarik setelah itu, sampai jam 20:45 saat saya sudah siap tidur, dokter IGD menelpon tanpa WA sebelumnya. Artinya? Kemungkinan besar ada operasi emergensi lagi.
Ternyata benar ada SC emergensi lagi, pemirsa! Dijadwalkan jam 21:00, tapi saya baru dikabari 15 menit sebelumnya. Parah!
Ya, gapapa sih. Sudah pasti bakal telat juga seperti pagi tadi. Benar saja, operasi baru mulai jam 22:00.
Saya tidak kapok perihal kejadian tadi pagi, saya kembali lagi merencanakan anestesi spinal dengan teknik very low dose. Saat memegang jarum, tepat ketika akan melakukan anestesi spinal, pikiran tentang blok parsial muncul lagi. Tapi karena intensitas gut feeling ini lebih lemah dari pagi tadi, saya kembali bersikap bodo amat. Singkat cerita, tidak ada blok parsial. Pasien hepi. Dokter obgyn hepi. Saya hepi. Semua orang hepi.
Malam ini ditutup dengan ceria.

Posting Komentar