
Tiket pesawat naik segila ini, saya harus bagaimana?
Sepertinya saya sedang ingin menulis lagi, tentang hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu penting, tapi cukup mengganggu pikiran.
Beberapa waktu terakhir, saya sempat memantau berita tentang Selat Hormuz dan potensi penutupan jalur tersebut oleh Iran. Dampaknya jelas, distribusi minyak terganggu, termasuk untuk kapal tanker milik Pertamina dan negara lain. Dalam situasi global seperti ini, sebenarnya hal tersebut cukup predictable. Selama pengisian bensin masih terasa normal di sekitar saya, saya memilih untuk tidak terlalu memikirkan dan hanya berharap situasi cepat mereda. Meski begitu, tetap saja terasa, beberapa negara besar (sebut saja US of A dan Israel) seolah tidak pernah kehabisan alasan untuk berkonflik.
Lalu, di tengah waktu senggang, saya melihat sebuah story WhatsApp dari teman yang mengeluhkan kenaikan harga tiket pesawat. Redaksinya dramatis, mungkin lebih mirip seperti tuntutan kenaikan gaji. Saya sempat bertanya dalam hati, memangnya naiknya seberapa besar sampai seheboh itu? Bukankah harga BBM seperti Pertalite dan Pertamax tidak berubah? Akses ke BBM harian ini pun tidak menjadi lebih sulit di sini.
Ternyata, saya salah.
Sebagai seseorang yang bekerja di perantauan dan rutin pulang setiap 2–4 bulan sekali, apalagi selalu beli tiket dua orang karena travel-nya bersama bocil, kenaikan harga tiket pesawat bukanlah isu kecil. Ada satu kalimat yang terlintas bahwa manusia cenderung tidak peduli sampai sesuatu benar-benar berdampak pada dirinya sendiri. Dan kali ini, saya merasakannya langsung.
Saya membuka aplikasi pemesanan tiket yang biasa saya gunakan. Sebelumnya, tiket dari Buli ke Makassar untuk penerbangan connecting berada di kisaran 2 hingga 2,5 juta rupiah per orang. Atau mungkin saya salah ingat, entah itu rute Makassar ke Buli atau sebaliknya. Tapi satu hal yang pasti, harga yang saya lihat kali ini terasa tidak masuk akal.
Hampir 4,5 juta rupiah per orang.
Perjalanan dari Maba ke Makassar sebenarnya punya dua skema utama. Yang paling sederhana adalah jalur darat dari Maba ke Buli, lalu terbang ke Ternate, dan dilanjutkan ke Makassar. Alternatifnya, jalur yang lebih “ribet,” yaitu dari Maba ke Sofifi, kemudian naik speedboat atau feri ke Ternate, dilanjutkan ojek atau taksi ke bandara, baru terbang ke Makassar.
Anehnya, saya justru lebih suka opsi kedua. Memang lebih melelahkan, tapi biasanya jauh lebih hemat. Harga tiket Ternate–Makassar sebelumnya berada di kisaran 1,3 hingga 1,4 juta rupiah per orang. Namun ketika saya cek ulang, harganya sudah menembus lebih dari 1,7 juta rupiah per orang.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Ternyata, harga avtur naik hingga lebih dari 70%. Saya sempat bersyukur bahwa yang naik bukan harga BBM seperti Pertalite atau Pertamax, karena tidak semua orang naik pesawat. Tapi tetap saja, sebagai orang yang sering bepergian dengan pesawat, ini terasa sangat berat.
Refleks pertama saya adalah menyalahkan maskapai. Rasanya ingin bertanya: di mana pemerintah? Mengapa kenaikan harga tiket bisa setinggi ini?
Namun kemudian saya menemukan bahwa kenaikan harga tiket ini telah mendapat persetujuan pemerintah. Bahkan, pemerintah juga disebut telah menyiapkan langkah mitigasi untuk menjaga stabilitas harga.
Artinya, harga yang terasa “tidak masuk akal” ini justru sudah termasuk harga yang dianggap stabil.
Dan di titik itu, saya hanya bisa berpikir: ini menyakitkan.
Ada kekhawatiran lain yang muncul bahwa kenaikan seperti ini cenderung bersifat satu arah. Sekali naik, jarang sekali kembali turun ke titik semula. Kita pernah melihat pola yang sama, misalnya pada pengurangan bagasi gratis atau kenaikan harga tiket saat pandemi. Apakah kali ini akan berakhir sama? Saya tidak tahu pasti.
Saya bukan ahli di bidang ini, jadi mungkin saja saya keliru. Tapi sebagai pengguna langsung, dampaknya terasa sangat nyata.
Posting Komentar