
Ada banyak hal yang terjadi belakangan ini. Sedemikian banyaknya, sampai saya tidak mampu menceritakannya satu per satu di sini. Bukan karena tidak ada bahan. Justru karena terlalu banyak bahan. Beberapa perubahan terasa besar, beberapa terasa mendadak, dan beberapa kemungkinan besar akan permanen. Kekhawatiran yang muncul dari semua perubahan itu terlalu melelahkan untuk diceritakan secara rapi.
Yang paling berat tentu saja adalah Bapak saya kena stroke pada 27 Juli 2026. Gejalanya lumpuh badan sebelah kiri. Saya tetap di Maba dan belum pulang ke Makassar sampai hari ini. Kalimat itu sendiri sebenarnya sudah cukup membuat saya merasa buruk. Bapak sakit berat, saya anaknya, tapi saya tetap berada di tempat pengabdian. Secara logika, benar ada banyak alasan yang bisa menjelaskan kenapa saya belum pulang. Secara perasaan, tetap saja rasanya tidak benar.
Stroke itu bukan hanya tentang satu orang yang tiba-tiba tidak bisa menggerakkan separuh badannya. Stroke juga tentang satu rumah yang mendadak berubah sistemnya. Tentang orang yang tadinya mandiri, lalu menjadi dependensi berat. Tentang jadwal makan, obat, mandi, buang air, mobilisasi, kontrol, fisioterapi, risiko jatuh, risiko luka tekan, risiko aspirasi, dan segala hal yang sebelumnya tidak terlalu dipikirkan karena tubuh masih bekerja seperti biasa.
Yang membuatnya makin berat adalah Ibu dan adik bungsu saya juga tidak kuat secara fisik karena sakitnya masing-masing. Jadi, di rumah bukan hanya ada satu orang yang membutuhkan bantuan. Ada beberapa orang yang masing-masing punya keterbatasan. Sementara itu, Bapak saat ini menjadi pusat kebutuhan baru yang besar sekali. Akhirnya, kami memulangkan adik tengah saya yang sekarang sudah menetap menjadi orang Lombok karena PNS di sana untuk membantu sementara.
Tapi sampai berapa lama?
Kalaupun saya pulang, berapa lama saya bisa tinggal?
Targetnya apa?
Adik saya yang sehat ini rencananya akan kembali ke Lombok akhir Agustus. Setelah itu bagaimana, saya belum tahu. Kalimat “saya belum tahu” ini belakangan terlalu sering muncul. Saya belum tahu pola rawatnya. Saya belum tahu pembagian tugasnya. Saya belum tahu apakah Bapak bisa membaik signifikan. Saya belum tahu apakah Ibu bisa kuat. Saya belum tahu apakah saya bisa pulang dalam waktu yang cukup. Saya belum tahu apakah pekerjaan saya bisa ditinggalkan. Saya belum tahu apakah uang akan cukup. Saya belum tahu terlalu banyak hal.
Dan anehnya, ketika kehidupan pribadi sedang terasa runtuh perlahan seperti itu, dunia luar juga tidak sedang baik-baik saja.
Rasanya bukan cuma keluarga saya yang sedang dipaksa beradaptasi. Orang-orang lain juga sedang dipaksa kuat dengan versinya masing-masing. Ada yang dipaksa kuat karena harga kebutuhan naik. Ada yang dipaksa kuat karena pekerjaan hilang. Ada yang dipaksa kuat karena akses layanan kesehatan menjadi rumit. Ada yang dipaksa kuat karena cuaca makin tidak ramah. Ada yang dipaksa kuat karena perang di tempat jauh membuat harga energi dan logistik ikut kacau sampai ke dapur rumah sendiri.
Saya membaca bahwa harga pangan kembali menjadi keluhan banyak orang. Secara makro, angka inflasi mungkin masih bisa disebut terkendali. Tapi angka makro selalu punya masalah yang sama, yaitu ia terdengar tenang dari jauh, tetapi tidak selalu terasa tenang ketika berdiri di depan rak telur, beras, ayam, cabai, sayur, dan kebutuhan rumah. Program makan bergizi gratis yang dilanjutkan secara nasional juga dilaporkan ikut memberi tekanan pada permintaan bahan pangan di beberapa tempat. Di atas kertas, memberi makan anak sekolah dan kelompok rentan tentu mulia. Tapi di pasar, niat baik tetap harus bertemu dengan pasokan, distribusi, dan harga.
Sebagai orang yang mengurus rumah, saya tidak hidup di dalam angka inflasi. Saya hidup di dalam daftar belanja. Saya hidup di dalam pertanyaan-pertanyaan sederhana, hari ini beli apa, cukup sampai kapan, dan apakah harganya masih masuk akal? Ketika harga naik sedikit demi sedikit, keluhannya juga tidak langsung meledak. Ia menumpuk pelan-pelan. Awalnya cuma “kok mahal ya?” Lalu berubah menjadi “kurangi dulu.” Lalu berubah menjadi “nanti saja.” Lalu akhirnya hidup terasa seperti proses menyesuaikan diri terus-menerus terhadap sesuatu yang tidak pernah benar-benar kita setujui.
Di sisi lain, kabar PHK juga terus muncul. Data Kementerian Ketenagakerjaan yang dikutip berbagai media menunjukkan puluhan ribu pekerja terkena PHK sepanjang Januari sampai Juli 2026. Ini bukan sekadar angka. Di balik setiap angka ada rumah tangga yang harus menghitung ulang cicilan, uang sekolah, biaya makan, biaya transportasi, dan mungkin juga biaya merawat orang tua yang sedang sakit. Saya membaca berita seperti itu lalu merasakan bahwa ternyata rasa cemas soal masa depan bukan monopoli saya saja.
Ada orang yang bangun pagi bukan untuk memikirkan subspesialis atau aktualisasi diri, tetapi untuk memikirkan apakah bulan depan masih punya pekerjaan. Ada orang yang tidak sedang pusing karena skill profesionalnya takut tumpul, tetapi karena sumber penghasilannya hilang sama sekali. Kalau saya merasa gaji terlambat saja sudah membuat napas pendek, bagaimana dengan orang yang gajinya benar-benar berhenti?
Lalu ada tekanan dari harga energi. Pertamax pernah naik besar tahun ini, dan Bank Indonesia juga sempat menaikkan suku bunga untuk menjaga stabilitas rupiah ketika nilai tukar tertekan oleh gejolak global. Saya tidak paham seluruh mekanisme makroekonomi. Saya tidak terlalu mengerti bagaimana perang, arus modal, dolar, minyak, dan kebijakan bank sentral saling tarik-menarik. Tapi saya tahu satu hal bahwa ujung dari semua istilah besar itu sering kali menimpa manusia biasa dalam bentuk harga yang lebih mahal.
BBM naik, ongkos naik. Ongkos naik, barang naik. Barang naik, belanja naik. Belanja naik, orang mulai mengorbankan hal yang dulu dianggap normal. Mungkin makan di luar dikurangi. Mungkin perjalanan ditunda. Mungkin kontrol kesehatan jadi dipikir ulang. Mungkin vitamin anak dianggap tidak terlalu prioritas. Mungkin liburan keluarga berubah menjadi wacana yang tidak pernah dieksekusi. Semua orang pelan-pelan mengencangkan ikat pinggang, sambil tetap diminta produktif dan waras.
Di luar negeri, perang dan ketegangan di Timur Tengah juga belum selesai-selesai. Selat Hormuz menjadi salah satu kata yang belakangan sering muncul karena jalur itu terlalu penting untuk minyak dan logistik dunia. Kalau jalur energi terganggu, dunia ikut terganggu. Perusahaan pelayaran besar bisa rugi ratusan juta dolar, harga minyak bergerak, pasar cemas, dan negara-negara yang jauh dari lokasi konflik tetap bisa merasakan efeknya. Dunia modern memang lucu. Orang berkonflik di satu kawasan, lalu orang di tempat lain ikut membayar ongkosnya.
Saya tidak tinggal di dekat Selat Hormuz. Saya tidak punya kapal tanker. Saya tidak berdagang minyak. Tapi saya bisa terdampak lewat harga tiket, harga barang, harga BBM, harga pengiriman, dan rasa tidak aman yang ikut menyebar. Inilah bagian paling menyebalkan dari globalisasi: ketika semuanya baik-baik saja, kita menikmati barang murah dan perjalanan yang lebih mudah. Ketika ada yang rusak di titik tertentu, efeknya menjalar seperti infeksi sistemik.
Belum selesai di situ, Indonesia juga sedang menghadapi puncak musim kemarau. BMKG sudah memperingatkan bahwa puncak kemarau 2026 terjadi pada Juli sampai September, dengan Agustus sebagai puncak terluas. Ada risiko kekeringan, keterbatasan air, dan kebakaran hutan serta lahan. Berita kebakaran di beberapa wilayah juga mulai muncul. Saya membaca itu dan teringat bahwa krisis tidak selalu datang dalam bentuk dramatis. Kadang ia datang sebagai udara yang makin panas, air yang makin sulit, asap yang makin tebal, dan tubuh yang makin lelah.
Jadi, ketika saya bilang ada banyak hal yang terjadi belakangan ini, maksud saya bukan sekadar dalam hidup pribadi. Memang, di rumah saya ada Bapak yang baru stroke. Ada Ibu yang tidak kuat. Ada adik tengah yang harus pulang sementara. Ada saya yang jauh di Maba dan merasa bersalah. Tapi di luar rumah, dunia juga sedang membuat banyak orang merasa tidak punya pijakan yang stabil.
Masalah pribadi membuat dada sempit. Masalah publik membuat langit terasa rendah.
Kombinasi keduanya melelahkan.
Yang paling menyiksa dari semua ini adalah tidak adanya bentuk penyelesaian yang jelas. Kalau ada masalah yang targetnya jelas, mungkin kita bisa mengumpulkan tenaga. Misalnya ujian bisa dilalui dengan belajar, ujian, lalu selesai. Operasi juga punya jalur mulai dari persiapan, tindakan, sampai pemulihan. Tapi merawat orang tua pascastroke tidak sesederhana itu. Ekonomi yang makin mahal juga tidak punya tanggal selesai. Perang global tidak menunggu kita siap mental. Musim kemarau tidak peduli kita sudah punya cukup air atau belum.
Semuanya berjalan bersamaan, tanpa meminta izin.
Saya ingin pulang, tapi pulang pun bukan jawaban lengkap. Saya ingin tetap bekerja, tapi bekerja pun tidak menghapus rasa bersalah. Saya ingin membantu, tapi bantuan selalu terbatas oleh jarak, waktu, uang, dan tubuh sendiri. Saya ingin percaya semua akan baik-baik saja, tapi saya juga tahu beberapa hal tidak akan kembali seperti sebelumnya.
Mungkin inilah yang disebut menjadi dewasa dalam bentuk yang paling tidak heroik. Bukan tentang mengambil keputusan besar dengan musik latar yang megah. Bukan tentang menjadi kuat karena memang kuat. Tapi tentang tetap menjalani hari ketika banyak hal tidak ideal, banyak hal tidak jelas, dan banyak hal tidak bisa kita perbaiki sekaligus.
Hari ini saya belum punya kesimpulan. Saya hanya punya daftar kekhawatiran yang terlalu panjang untuk ditulis lengkap. Saya punya keluarga yang sedang berubah bentuk karena sakit. Saya punya pekerjaan yang tetap harus dijalani. Saya punya dunia luar yang terasa makin mahal, makin panas, dan makin mudah terguncang.
Mungkin semua orang memang sedang dipaksa kuat pada waktu yang sama.
Bedanya, sebagian orang punya ruang untuk mengeluh. Sebagian lagi tidak. Hari ini, saya memilih menulis, karena mungkin ini satu-satunya cara saya mengeluh tanpa harus menjelaskan semuanya dari awal.
Posting Komentar