
Kemarin saya melihat sebuah berita duka. Seorang dokter anestesi yang pernah bertugas di rumah sakit ini sekitar lima tahun lalu dikabarkan meninggal dunia. Orang-orang yang pernah mengenalnya di sini mulai membuat story berduka. Dari informasi yang beredar, beliau terakhir bekerja di salah satu rumah sakit di Kalimantan Timur, dan kabar meninggalnya disampaikan melalui akun resmi rumah sakit tersebut.
Saya lalu mencoba memastikan kebenarannya. Saya bertanya kepada sejawat yang bekerja dekat dengan tempat beliau terakhir bertugas, dan ternyata kabar tersebut benar.
Lalu saya melakukan hal yang mungkin dilakukan banyak orang zaman sekarang, dengan mencari namanya di Google.
Muncullah berbagai informasi. Ada profil profesional. Ada riwayat pendidikan. Ada daftar tempat kerja. Ada informasi bahwa beliau adalah dokter spesialis anestesi yang pernah bertugas di beberapa rumah sakit. Ada tanggal meninggal. Ada jejak digital yang cukup rapi.
Dan tiba-tiba saya merasa iri.
Bukan iri karena beliau meninggal tentu saja. Tapi iri terhadap sesuatu yang sangat sederhana, yaitu identitas digital yang jelas.
Ketika seseorang memiliki nama yang relatif unik, lalu bekerja dalam bidang yang terdokumentasi dengan baik, internet bisa menyusun cerita tentang dirinya. Mesin pencari, termasuk sistem berbasis AI, bisa menghubungkan nama, profesi, institusi, publikasi, dan perjalanan karier menjadi satu profil yang masuk akal.
Mungkin RSUD Maba tidak muncul dalam profil digital beliau karena ada keterbatasan dokumentasi. Website rumah sakit ini sering mengalami masalah dan sebagian data digitalnya tidak tersedia karena selama beberapa waktu tidak terpelihara dengan baik. Namun, riwayat pekerjaan beliau di tempat lain tetap terdokumentasi.
Terkesan dengan kesederhanaan mengetik sebuah nama di browser dan muncul semua informasi tentangnya, saya mencoba melakukan eksperimen kecil. Saya mencari nama saya sendiri. Dan ternyata... Tidak ada yang menarik. Ya, tentu saja ada beberapa hasil. Tapi tidak seperti yang saya bayangkan. Masalahnya adalah nama saya terlalu umum.
Mencari Muhammad Fauzi Ramadhan akan membawa kita ke berbagai orang dengan nama yang sama, sangat mirip, atau bahkan persis huruf demi hurufnya. Ada berbagai profesi, berbagai latar belakang, dan berbagai lokasi. Ada nama yang berkaitan dengan dunia akademik, hukum, politik, pendidikan, dan profesi lainnya. Bahkan pencarian dengan tambahan gelar pun bisa membingungkan.
Bagian yang lumayan lucu adalah ketika saya mencoba menambahkan “dr” di depan nama saya.
Maksudnya ingin mencari kata 'dokter,' tapi mesin pencari juga mengenal “Dr” sebagai singkatan akademik untuk doktor. Akhirnya yang muncul bisa saja orang lain dengan gelar akademik, bahkan bukan dokter sama sekali.
Semakin lengkap nama saya ditulis, semakin terasa bahwa saya bukan semakin mudah ditemukan, tetapi semakin tersesat di antara banyak orang dengan nama serupa. Supaya mudah dikenali barangkali saya harus menjadi populer atau mungkin perlu ganti nama.
Kalau dipikir-pikir, ada sisi positifnya. Punya nama pasaran berarti saya tidak mudah ditemukan oleh sembarang orang. Saya tidak memiliki beban nama yang terlalu unik sehingga setiap kesalahan kecil langsung melekat ke identitas saya selamanya. Kalau suatu hari ada orang bernama sama melakukan sesuatu yang buruk, setidaknya internet tidak otomatis menunjuk saya. Dalam dunia privasi digital, mungkin ini sebuah keuntungan.
Tapi sisi tidak nyamannya juga nyata. Jika saya ingin membuat website pribadi, saya ingin membangun dokumentasi personal dan profesional. Entah kenapa saya ingin nama yang polos-polos saja, tidak pakai embel-embel profesi, maupun sapaan. Tapi kemudian saya sadar bahwa nama yang polos itu punya masalah teknis tersendiri. Domain dengan nama “Fauzi” hampir semuanya sudah diambil. Menggunakan “Muhammad” juga bukan solusi yang baik. Nama Muhammad adalah salah satu nama paling umum di dunia. Menggunakan hanya “Ramadhan” juga tidak cukup spesifik karena itu adalah nama bulan dalam kalender Hijriah yang digunakan jutaan orang. Menggunakan kata ini akan membuat orang berpikir kalau saya akan memberikan kultum di bulan puasa.
Menggabungkan semuanya? Mungkin bisa. Tapi panjang sekali. Saya yang punya nama saja sudah malas mengetiknya. Saat ini, kalau seseorang mencari saya, mungkin hanya ada beberapa jejak yang benar-benar mengarah kepada saya, yang tidak populer. Ada LinkedIn. Ada ResearchGate. Ada beberapa tulisan anestesi yang saya buat, meskipun sebagian besar dibuat dengan AI. Tapi rasa-rasanya LinkedIn bukan sesuatu yang sangat saya sukai, dan ResearchGate saya juga bukan hal yang mengesankan karena isinya baru satu publikasi semasa pendidikan, dan sampai saat ini saya belum kepikiran untuk jadi peneliti.
Sebenarnya sebagai dokter spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif, saya punya cukup banyak hal yang tidak terceritakan. Tapi internet tidak peduli dengan perjalanan yang tidak terdokumentasi. Internet hanya peduli dengan jejak. Kalau sesuatu tidak tertulis, tidak terhubung, tidak terindeks, maka bagi mesin pencari hal tersebut hampir tidak ada.
Idealnya, seseorang cukup mengetik nama dan mendapatkan cerita yang benar. Bukan harus memberikan petunjuk tambahan seperti sedang menyelesaikan teka-teki. Tapi mungkin ini memang konsekuensi hidup di zaman digital.
Dulu masalah manusia adalah bagaimana agar namanya dikenang. Sekarang masalahnya adalah bagaimana agar namanya bisa ditemukan di antara jutaan nama lain. Dan ternyata, punya nama pasaran adalah salah satu tantangan yang tidak pernah saya pikirkan ketika kecil.
Saya dulu hanya berpikir nama adalah nama. Ternyata, di dunia internet, nama adalah sebuah alamat. Dan alamat yang terlalu umum membuat orang tersesat.
Posting Komentar