
Akhir-akhir ini saya semakin sering merasa bingung ketika mendengar pidato pejabat publik. Bukan karena saya berharap seorang pemimpin harus selalu benar seratus persen. Itu tidak realistis. Semua manusia bisa salah bicara. Semua orang bisa salah dengar. Semua orang bisa menerima informasi yang keliru dari bawahannya.
Tapi ada jenis kesalahan yang membuat saya berhenti dan berpikir, bagaimana proses berpikir yang menghasilkan pernyataan seperti ini?
Salah satu yang baru-baru ini ramai adalah ketika Presiden Prabowo menyampaikan kisah seorang pengupas bawang yang disebut mendapatkan upah Rp700 ribu per kilogram. Angka tersebut langsung membuat banyak orang mengernyitkan dahi. Bukan karena orang tidak percaya bahwa buruh bisa mendapatkan penghasilan yang layak, tetapi karena angka tersebut secara logika ekonomi terdengar sangat tidak masuk akal.
Saya termasuk orang yang awalnya berpikir, mungkin saya yang tidak memahami sistem pengupahan buruh bawang. Mungkin ada konteks tertentu. Mungkin ada pekerjaan tambahan. Mungkin ada kesalahan mendengar.
Ternyata setelah dicek, masalahnya memang ada pada angka. Yang benar adalah kisaran Rp700 sampai Rp1.000 per kilogram, bukan Rp700 ribu per kilogram.
Perbedaannya bukan kecil. Ini bukan salah ketik satu angka nol. Ini perbedaan seribu kali lipat. Dan menurut saya, justru di sinilah masalah sebenarnya muncul. Kesalahan seperti ini terlihat sederhana, tetapi terjadi dalam pidato kenegaraan. Ketika seorang presiden menyampaikan angka, angka tersebut bukan sekadar angka pribadi. Ia membawa bobot institusi.
Orang bisa saja mengatakan, “Ah, hanya salah ucap.”
Ya, mungkin. Tapi masalahnya bukan hanya pada lidah yang terpeleset. Masalahnya adalah proses sebelum kalimat itu keluar. Informasi itu berasal dari mana? Siapa yang memverifikasi? Apakah ada mekanisme pengecekan fakta sebelum data digunakan dalam pidato publik?
Karena kalau seorang warga biasa salah menyebut harga bawang, dampaknya hanya percakapan warung kopi. Tapi kalau kepala negara salah menyampaikan kondisi ekonomi seorang pekerja, dampaknya berbeda. Masyarakat bisa mendapatkan gambaran realitas yang tidak sesuai.
Dan ini bukan soal mencari-cari kesalahan. Justru seorang pemimpin seharusnya mendapatkan kritik seperti ini. Kekuasaan yang besar membutuhkan sistem koreksi yang besar juga.
Masalah lain yang membuat saya mengernyitkan dahi adalah ketika mendengar wacana ambulans udara dan dokter terbang untuk daerah terpencil.
Sekilas, idenya terdengar keren. Sangat futuristik. Bayangkan, seseorang sakit di daerah terpencil, lalu sebuah helikopter datang membawa dokter. Masalah selesai. Negara hadir. Tidak ada lagi warga yang meninggal karena jauh dari rumah sakit.
Secara emosional, konsep ini mudah diterima. Tapi kebijakan publik tidak bisa hanya dinilai dari seberapa heroik bayangannya. Masalah kesehatan Indonesia di daerah terpencil bukan hanya masalah jarak pasien ke dokter. Masalahnya jauh lebih mendasar.
Masalahnya adalah jalan. Masalahnya adalah transportasi. Masalahnya adalah distribusi tenaga kesehatan. Masalahnya adalah fasilitas primer. Masalahnya adalah rumah sakit rujukan. Masalahnya adalah bagaimana seorang ibu hamil mendapatkan pemeriksaan rutin sebelum kondisinya menjadi gawat. Masalahnya adalah bagaimana seorang anak dengan pneumonia mendapatkan antibiotik sebelum sesak berat. Masalahnya adalah bagaimana pasien stroke mendapatkan pencegahan sebelum pembuluh darahnya pecah.
Ambulans udara adalah solusi untuk fase terakhir, yaitu ketika masalah sudah terjadi dan pasien membutuhkan evakuasi cepat. Tapi sistem kesehatan yang baik bukan hanya tentang menyelamatkan orang yang sudah hampir kehilangan nyawa. Sistem kesehatan yang baik adalah sistem yang membuat orang tidak sampai berada di titik itu.
Ini seperti pemadam kebakaran. Kita tentu butuh mobil pemadam yang cepat. Tapi kota yang baik juga harus punya aturan bangunan, sistem listrik aman, akses jalan, dan pencegahan kebakaran.
Kalau semua masalah diselesaikan dengan “kirim superhero”, maka kita berisiko lupa membangun sistem yang membuat superhero tidak perlu terlalu sering datang.
Dan menurut saya, ini adalah pola yang sering muncul dalam komunikasi politik modern, solusi yang terlihat spektakuler lebih mudah dijual dibandingkan solusi yang membosankan tetapi fundamental.
Membangun jalan desa tidak terdengar heroik. Memperbaiki sistem rujukan kesehatan tidak terdengar dramatis. Menambah dokter di puskesmas terpencil tidak menghasilkan gambar yang spektakuler. Tapi justru hal-hal membosankan seperti itu yang sering menyelamatkan lebih banyak nyawa.
Saya rasa salah satu masalah terbesar dalam kebijakan publik kita adalah kecenderungan mencari solusi yang terlihat besar, bukan selalu solusi yang paling efektif.
Kita suka proyek besar. Kita suka simbol. Kita suka sesuatu yang bisa dipamerkan. Tapi masyarakat hidup bukan di dalam pidato. Masyarakat hidup di jalan rusak yang harus dilewati ambulans. Mereka hidup di ruang tunggu rumah sakit. Mereka hidup di puskesmas yang kekurangan tenaga. Mereka hidup dengan harga kebutuhan sehari-hari.
Dan di situlah saya merasa pentingnya akurasi karena kebijakan yang baik dimulai dari diagnosis masalah yang benar.
Dokter mana pun tahu prinsip ini. Kalau diagnosis salah, terapi juga bisa salah. Pasien demam bukan otomatis diberi antibiotik. Pasien sesak bukan otomatis diberi ventilator. Kita harus memahami penyebab sebelum memilih intervensi.
Negara juga begitu. Kalau masalah sebenarnya adalah infrastruktur kesehatan yang lemah, maka jawabannya bukan hanya membuat ambulans udara. Kalau masalahnya adalah kesejahteraan pekerja, maka jawabannya bukan hanya menceritakan kisah pekerja dengan angka yang salah. Yang dibutuhkan adalah melihat kenyataan secara akurat.
Saya memahami bahwa menjadi presiden bukan pekerjaan mudah. Informasi yang masuk sangat banyak. Keputusan harus dibuat cepat. Dunia penuh ketidakpastian. Tapi justru karena pekerjaannya berat, sistem pendukungnya harus lebih kuat.
Presiden tidak boleh hanya mendapatkan cerita yang indah. Presiden harus mendapatkan data yang benar karena negara bukan panggung untuk menunjukkan optimisme. Negara adalah mesin besar yang harus bekerja berdasarkan kenyataan. Dan kenyataan kadang memang tidak menarik. Kenyataan tidak selalu memiliki cerita heroik.
Kenyataan sering kali hanya berupa angka kecil, jalan berlubang, puskesmas yang kekurangan tenaga, dan seorang warga yang berharap negara hadir sebelum semuanya terlambat.
Posting Komentar